Kamis, 28 Agustus 2008

Mengajarkan Anak Mengendalikan Emosi

Bulan suci Ramadhan identik dengan pengendalian diri. Mulai dari menahan diri terhadap makanan, minuman hingga amarah. Momen itu sangat tepat mengajarkan anak mengenai emosi dan pengendalian diri.

Peneliti dari Univesitas Pennsylvania, Amerika Serikat Cynthia Stifter Ph.D, menyebutkan dua ciri pengendalian diri pada anak.

Pertama, kemampuan untuk mengendalikan dorongan-dorongan melakukan sesuatu dan mengendalikan keinginan akan sesuatu. Kedua, kemampuan anak mematuhi norma sosial tanpa pengawasan. Kedua hal itu dilakukan karena adanya kerelaan.

Dalam penelitannya, Stifter mengungkap, kemampuan mengendalikan diri pada anak membentuk fleksibilitas dalam beradaptasi dengan berbagai situasi.

Pengendalian diri, yang termasuk di dalamnya menunda kepuasan, berkaitan dengan prestasi belajar anak di sekolah dan pergaulan.

Konsultan pendidikan dari Amerika dan penulis buku Building Moral Intelligence: The Seven Essential Virtues That Teach Kids to Do the Right Thing, Dr. Michele Borba mengatakan, pengendalian diri merupakan salah satu aspek kecerdasan moral. Disamping aspek lain seperti menolong orang lain dan berempati.

“Dalam penelitian saya lebih dari duapuluh tahun ini, anak-anak muda yang melakukan kejahatan sangat kurang cerdas dalam hal moralitas,” ujar Borba.

Stifter menambahkan, keterampilan mengendalikan diri berkembang melalui tiga fase. Fase pertama, yaitu sampai anak berusia sekitar 18 bulan, disebut fase kontrol. Anak-anak usia itu perilakunya masih dikendalikan dari luar, oleh orang dewasa di sekitarnya.

Fase kedua, disebut fase pengendalian diri (self control), ditandai dengan kesadaran anak melakukan kewajiban tanpa pengawasan. Fase ketiga atau yang terakhir, adalah kemampuan anak menyesuaikan dan mengatur diri dalam berbagai kondisi.

Dia menuturkan, pengendalian diri dapat dilatihkan pada anak-anak sejak usia bawah lima tahun (balita). Misalnya, anak usia empat tahun dapat dilatih memahami isi pembicaraan orang lain. Saat dia menginginkan sesuatu, ajak anak berpikir apakah keinginannya itu hanya keinginan sesaat, ataukah kebutuhan jangka panjang.

Tips Mendukung Perkembangan Emosi Anak

Buah hati Anda butuh dukungan bagi perkembangan emosinya. Ada beberapa prinsip yang perlu diketahui orang tua untuk mengembangkan emosi anak, antara lain:

* Tetapkan waktu bermain setiap hari dengan anak. Beri kesempatan pada anak untuk menentukan apa yang ingin dia lakukan bersama Anda.
* Luangkan waktu untuk memecahkan masalah bersama anak. Ketika dia merasa sedih karena tidak diajak bermain oleh temannya, bantu anak mencari penyebabnya, kemudian cari bersama pemecahannya. Hal semacam itu membantu anak belajar berpikir logis dalam mengatasi masalah emosinya.
* Melihat masalah dari sudut pandang anak. Kalau orangtua sungguh-sungguh mendengarkan dan berempati terhadap anak, maka dapat memahami alasan tindakannya. Saat Anda paham betul perasaan si kecil, Anda mungkin sekali tidak akan ikut-ikutan marah.
* Minimalkan masalah. Saat si kecil merasa jengkel karena gagal menyusun balok menjadi bentuk gedung yang dia inginkan, Anda dapat menunjukkan penyebab kegagalannya.
* Berikan batasan untuk memberi bimbingan dan rasa aman kepada anak. Menetapkan batasan dapat dikombinasi dengan waktu bermain bersama anak, khususnya ketika anak menunjukkan perilaku buruk.
(Republika)

Tidak ada komentar: